Tampilkan postingan dengan label File Biokoser Kulia. Tampilkan semua postingan
“ Setahu Bapak, bagaimana konservasi itu? Maksud saya apa yang dilakukan dalam konservasi itu?” Tanya saya lagi karena merasa suasana sudah agak mencair. “ Ya, mungkin di dalam konservasi tersebut dilakukan perbaikan atau menjaga lingkungan misalnya hutan agar tidak terjadi bencana, “tu mah contohnyo di Silaiang acok longsor, tu dek a, kayu-kayu pohon di atehnyo tu alah banyak nan habis jadi aia hujan mailia se turun mambawo tanah, manusia juo nan baulah”, jawab bapak tersebut dengan mantap sembari melontarkan guyonan minangnya.
“Lalu apakah bapak pernah mendengar istilah Biologi Konservasi?”.tanya saya lagi. Bapak tersebut tersenyum dan mulai mempersiapkan rangkaian kata-katanya “ Setahu bapak, biologi tu baraja tentang makhluk hidup, di dalamnyo mencakup tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan. Berarti disiko biokonservasi tu adolah bagaimana supaya kita melakukan perlindungan terhadap tumbuhan dan hewan tadi agar mereka semua bisa selamat, aratinyo adolah tempat hidup mereka jangan diganggu”. Lancar sekali bapak tersebut menjawab meskipun bahasanya campur-campur. Memang sih pada awal-awalnya bapak tersebut agak bingung dengan permasalahan biokonservasi tersebut, tetapi saya selalu berusaha memberikan pertanyaan – pertanyaan arahan untuk membantu bapak tersebut untuk mengerti dan mengeluarkan sendiri penjelasan yang dia tangkap dari arah pertanyaan yang saya ajukan. Saya tidak sabar untuk menunggu jawaban – jawaban lainnya, lalu saya segera menanyakan hal-hal lain yang masih bersambungan dengan pertanyaan tadi
“Apa-apa saja salah satu bentuk konservasi yang pernah Bapak lihat atau Bapak sendiri yang melakukan suatu konservasi?”. Kemudian bapak tersebut agak sedikit memikir “apa ya”!!! “Yang bapak tahu tidak banyak nak, mungkin bapak pernah dengar orang-orang melakukan penghijauan, katanya kita menanam bibit-bibit pohon di hutan yang kawasannya sudah tidak bagus lagi”. Saya mengangguk-nganggukan kepala atas jawaban beliau. Saya tahu bahwa bapak ini adalah pensiunan PT. Semen Padang, tentulah beliau cukup paham atau melihat langsung kerusakan-kerusakan di hutan. Bukankah hutan disekitar PT Semen Padang tersebut telah banyak yang tandus mengingat bahan baku untuk semen tersebut di eksplorasi dari hutan di sekitar pabrik tersebut.
Mmmm….Kalo boleh kita flashback kembali ke wawancaranya, di sela-sela perbincangan kami ini, bapak Zamzami bercerita juga mengenai keadaan Pasar Baru beberapa tahun yang lalu. Kata beliau, dulu Pasar Baru tidak seramai seperti ini. Pasar baru masih memiliki banyak lahan-lahan pertanian seperti sawah. Namun kini semua lahan dibuka untuk dijadikan tempat kos-kosan. Sawah-sawah sudah banyak yang mulai dijual tanahnya dan ditimbun untuk dijadikan sebagai rumah toko (ruko). Mungkin saat sekarang kita belum merasakan dampak yang besar mengenai hal ini, tetapi yakinlah bahwa beberapa tahun kedepan saja mungkin keberadaan sawah-sawah sudah mulai terdesak atau mulai banyak masyarakat yang memperluas tanahnya dengan mendatarkan bukit di belakang sana kata beliau serta menunjukkan telunjuknya kearah belakang kos saya yang memang ada bukit disana dan sekaligus aliran sungai dari Batu Busuak.
Mungkin berbeda dengan ibu Septaria Yusmar, seorang ibu rumah tangga yang berusia sekitar 35 tahun. Dalam proses wawancara ini saya menemukan cukup banyak kesulitan dalam mengarahkan jawaban ibu ini mengingat ibu ini sebagai masyarakat biasa yang pendidikannya dapat dikatakan masih sangat rendah tentu masih awam akan informasi-informasi yang ada pada saat sekarang ini, apalagi mengenai masalah biokonservasi. Kalaupun pernah mendengar istilah tersebut mungkin sering diabaikan begitu saja. Ibu ini saya temui ketika beliau sedang belanja di warung dekat kos saya untuk membeli sambal. Saya meminta izin beliau untuk menyediakan waktunya sebentar untuk mewawancarainya tepatnya berbincang-bincang hangat. Perbincangan pembuka saya awali dengan perkenalan diri saya dan tujuan saya mewawancarai beliau. Lalu saya berikan semacam pengantar mengenai kerusakan hutan dan banyak pengaruh yang kita rasakan sebagai umat manusia akan perubahan kondisi alam yang semakin panas ini. Dan saya mulai memasuki tahap pertanyaan yang sebenarnya atau inti pertanyaan yang saya ingin dapatkan jawabannya dari beliau. Saya sudah begitu yakin kalau ibu ini akan menjawab dengan wawasan yang dia miliki atau dia tangkap dari perbincangan pengantar tadi, namun saying ketika saya tanyakan tahukah beliau semacam usaha konservasi atau perlindungan terhadap keanekaragaman makhluk hidup yang ada di hutan atau tempat tinggal spesies tersebut (*habitat dalam bahasa ilmiahnya), ibu tersebut segera menggelengkan kepalanya. Saya sedikit terkejut, saya pikir ibu tersebut sudah menangkap apa yang saya arahkan sebelumnya. Namun dengan sabar saya mulai mengarahkan lagi sedikit demi sedikit hingga ibu itu benar-benar mengerti. Huftt… lega saya. Ibu itu jadi tahu informasinya, dan data yang saya harapkan bisa saya dapatkan. Dalam mewawancarai ibu Septaria ini, banyak kelucuan yang saya temukan dan herannya bahan wawancara yang saya dapatkan dari beliau sangat sedikit tapi sebaliknya penjelasan saya panjang lebar kepada beliau dalam menginformasikan masalah biokonservasi. Tidak apa-apa. Malahan saya sangat senang. Kenapa? Paling tidak saya telah bisa menyumbangkan sedikit ilmu biologi saya kepada masyarakat seperti ibu Septaria ini.
Kesimpulan atau lebih tepatnya makna yang bisa saya rasakan ketika saya mulai terjun kelapangan dan berbaur langsung dengan masyarakat mengangkat tema biokonservasi ini yaitu meski sebenarnya makna konservasi biologi dimata mereka sangat sederhana dibandingkan kita-kita yang boleh dibilang sudah cukup banyak mendapatkan pengetahuan mengenai konservasi hayati, tetapi saya sangat menghargai setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Setidaknya mereka masih peduli dengan lingkungan dan masih memikirkan masalah lingkungan yang akan terjadi jika seandainya hutan-hutan dibumi ini dirusak. Setidaknya itu yang saya tangkap dari perbincangan singkat saya dengan mereka. Terimakasih buat bapak Zamzami dan ibu Septaria Yusmar, berkat anda berdua saya dapat menyelasaikan tugas kuliah ini dan saya bisa menyumbangkan sedikit ilmu saya kepada Bapak dan Ibu. Slogan dari saya
We are One Earth, Let’s Save Our Earth
Written by : Nenny Darmayanti
*Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Biologi 07, FMIPA Unand
Mengapa perencanaan tata ruang menjadi bagian yang penting dalam kehidupan sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini ternyata tidak dapat dijelaskan melalui satu atau dua kalimat saja. Sebab perencanaan merupakan upaya manusia dalam menghadapi tantangan agar dapat hidup lebih layak dalam totalitas penataan ruang yang efisien dan efektif. Di samping itu, dengan perencanaan diharapkan persoalan-persoalan yang tumbuh dimasa yang akan datang telah diketahui sejak dini. Setidaknya prediksi telah dicatat untuk dicarikan alternatif pemecahannya. Jelas bahwa setiap perencanaan dirancang agar mampu memprediksi persoalan-persoalan yang tumbuh dikemudian hari.
Perencanaan tata ruang sangat berkaitan dengan tatanan suatu perkotaan. Kerumitan di perkotaan berkaitan dengan dinamika perkembangan kota. Penduduk kota selalu berubah dan bergerak yang seringkali susah ditebak. Apalagi mengingat sekarang ini derasnya arus urbanisasi yang berdampak pada merosotnya nilai relief suatu permukaan tatanan kota. Menarik sekali membahas mengenai permasalahan tata ruang wilayah dengan memaparkan segala bentuk permasalahannya serta mencarikan solusi terhadap permasalahn tersebut. Mari kita ambil permasalahan yang terjadi di kota yang baru saja dilanda gempa dahsyat 30 september lalu, kota Padang. Mengapa kita fokuskan diskusinya untuk kota Padang?Ya, Padang mulai bangkit dari bencana, Padang mulai membangun, dan Padang membutuhkan kita generasi mudanya untuk senantiasa mencurahkan setiap gagasan intelektualitasnya demi kebangkitan dan kemajuan kota Padang.
Kota Padang masih perlu banyak pembenahan di sana sini. Masih banyak ditemukan sisi kelam penataan ruang yang kurang efektif dan efisien. Dalam pelaksanaan penataan ruang di kota, masih sering terjadi permasalahan yang bersumber pada kemampuan sumber daya aparat Pemko, seperti belum terwujudnya kesamaan pola pikir dan persepsi para aparatur pemerintah kota terhadap upaya menangani permasalahan penataan ruang serta masih lemahnya upaya-upaya untuk menterpadukan rencana-rencana pembangunan dan mensinkronkan program-program pembangunan sektoral dan kota melalui pemanfaatan tata ruang. Dan kini pasca gempa, tugas pemko menjadi dua kali lipat, yaitu ditambah dengan upaya mengembalikan infrastruktur bangunan serta perencanaan lahan lain sebagai tempat untuk membangun pusat-pusat pemerintahan yang baru. Berangkat dari permasalahan ini mungkin kita bisa memberikan kontribusi berupa gagasan ataupun diskusi tertulis untuk lebih baiknya tatanan ruang kota Padang.
Kota Padang adalah kota yang boleh dikatakan menyelenggarakan pemanfaatan ruang yang berwawasan lingkungan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Padang merupakan salah satu kawasan cepat tumbuh yang dalam perkembangannya terjadi konurbasi antara kota Padang dengan kota dan kabupaten yang berdekatan membentuk “Kawasan Metropolitan Padang”. Menurut pemaparan Direktur Penataan Ruang Wilayah I, Bahal Edison Naiborhu, dalam pembahasan usulan daerah untuk meningkatkan status Padang menjadi Kota Metropolitan, mengatakan bahwa konsep Green Metropolitan diusung untuk mendukung konsep pengembangan Provinsi Sumatera Barat, yang mengembangkan konsep penataan ruang berdaya saing dan terpadu berbasis kelestarian lingkungan hidup. Dan nilai plus dari konsep tata ruang wilayah Kota Padang ini adalah karena tetap mempertahankan kawasan hutan lindung dan kawasan suaka alam serta kawasan pelestarian alam yang ada di kawasan ini. Inilah salah satu bukti bahwa Padang masih tetap memperhatikan etika konservasi.
Sementara dukungan infrastruktur telah siap dengan adanya Pelabuhan Internasional Teluk Bayur dan Bandara Internasional Minangkabau. Diharapkan Kawasan Metropolitan Padang dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi di kawasan pantai barat Sumatera. Padang saat ini mulai membangun dari bencana. Berbagai infrastruktur baik dari pemerintahan maupun non kepemerintahan sedang direncanakan pembangunannya bahkan ada yang sedang dalam proses pengerjaan.
Baru – baru ini sedang ada perencanaan untuk pemindahan pusat pemerintahan Kota Padang. Bencana gempa bumi yang melanda Kota Padang 30 September 2009 lalu, yang telah menghancurkan sebagian besar fasilitas perkantoran di lingkungan Pemko Padang harus segera dilakukan percepatan pembangunannya. Dan saat ini pemko butuh dukungan masyarakat yaitu, untuk membangun kembali pusat perkantoran yang lokasinya dipindahkan ke tempat lain. Menurut Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah, Sp, pemindahan lokasi perkantoran itu selain terkait dengan alasan mitigasi bencana alam, sekaligus mengurangi tekanan lalulintas ke kawasan pusat kota saat ini. Itu salah satu kebijakan yang memperhatikan tidak hanya nilai sosial saja, tetapi juga menyangkut nilai keamanan.
Dari beberapa lokasi alternatif yang ada, maka berdasarkan rekomendasi dari Tim Ahli yang tergabung dalam Badan Pendamping Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BPRR) Kota Padang ditetapkan dua lokasi yang paling memungkinkan, yaitu Bukit Napa dan kawasan Air Pacah. Khusus Air Pacah sebagai kawasan pusat administrasi Pemko Padang sudah tertuang dalam Perda No.10 Tahun 2005 Tentang Tata Ruang Wilayah Kota Padang Periode 2004-2013, ujar Mahyeldi.
Guna memperepat proses implementasi pembangunan pusat perkantoran Pemko telah direncanakan beberapa kegiatan tahun 2010 yaitu meliputi, revisi RTRW Kota Padang yang didanai APBN Tahun Anggaran 2010 melalui Ditjend Penataan Ruang Departemen PU. Juga ada beberapa kegiatan lain yang secara tidak langsung menunjang implementasi pemindahan pusat perkantoran Pemko itu, seperti rencana pemulihan ekonomi kota, penataan kawasan Pasar Raya Padang dan sekitarnya serta perencanaan/ penataan kawasan Padang lama.Tampaknya Pemko Padang benar-benar merencanakan penataan ruang ini dengan matang. Penataan kawasan Pasar Raya Padang menjadi diskusi menarik sekali untuk dibahas. Mungkin semua orang banyak mengeluhkan kesemrawutan yang terjadi di kawasan Pasar Raya Padang tersebut. Mulai dari pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya di jalan-jalan raya yang seharusnya untuk kendaraan, malah beralih fungsi sebagai lahan untuk berjualan sampai dengan kendaraan angkutan umum yang bercampur jalurnya dengan kendaraan pribadi. Lihatlah kemacetan, pasar yang sempit, serta pengelolaan sampah yang kurang baik menyebabkan pencemaran udara dengan menimbulkan bau busuk dan merupakan sumber penyakit. Pengelolaan sampah ini semata-mata tidak hanya kesalahan dari petugas kebersihan, tetapi merupakan kesalahan masyarakat maupun pemerintahan sendiri. Saya rasa jika diberlakukan suatu kebijakan atau peraturan yang benar-benar menerapkan sanksi, tentu para pedagang tidak akan mau melakukan pembuangan sampah yang sembarangan. Hendaknya pemerintah membuat peraturan yang tidak merugikan pedagang namun tidak pula merugikan petugas kebersihan.
Pembenahan memang harus dimulai dari yang kecil. Bagaimana bisa kita membangun suatu yang besar kalau hal yang kecil dan sepele saja kita masih tidak bisa mengatasinya. Lalu bagaimana dengan sistem transportasi di kota Padang?. Sebagai seorang mahasiswi yang sangat sering bersentuhan dengan yang namanya transportasi umum, baik angkot maupun bus kota sangat menyayangkan sekali kebrutalan dan keamburadulan sistem transportasi yang sangat tidak tertata dengan benar. Bahkan sampai saat ini saya masih bertanya-tanya dimana terminal untuk masing-masing angkutan tersebut. Sampai saya mengenal istilah “terminal bayangan” .Setahu saya untuk bus kota jurusan Lubuk Buaya – Pasar Raya, terminal bayangannya ada di depan Pos Indonesia. Disana tidak tanggung-tanggung pula kemacetan yang terjadi. Apalagi setelah berpapasan dengan angkutan umum yang lain. Melewati pasar raya, layaknya melewati leher botol. Jalanannya sangat kecil dan sempit ditambah pula dengan jalanan sekitar Permindo yang dipadati dengan pondok-pondok pedagang yang berjualan yang sangat mengurangi lebar badan jalan yang berujung pada kemacetan juga.
. Sudah saatnya Kota Padang memiliki transportasi publik yang aman, nyaman dan ekonomis. Sekarang, jenis angkutan publik yang ada, sudah semakin tak seronok (tak menyenangkan) dengan berbagai aksesoris dan hidangan musik yang membuat telinga pecah, ditambah dengan perilaku sopir yang tidak peduli dengan penumpang selaku konsumen mereka. Menurut Dahnil, perilaku para sopir tersebut, timbul karena tidak berjalannya fungsi dan pengawasan aparat terkait dalam menertibkan pelaku jasa transportasi, sehingga mereka merasa aturan dan keberadaan aparat, tidak ada apa-apanya. Seharusnya perilaku para sopir yang sudah mulai meresahkan tersebut, seperti berhenti sembarang tempat, memakai musik yang sangat keras, sampai dengan mempekerjakan sopir yang masih di bawah umur sudah harus diberikan tindakan yang bukan hanya berupa tilang atau peringatan saja, tapi sudah harus dicabut izin trayeknya. Banyak alasan-alasan klasik yang sering diutarakan para pengendara angkutan yang sering tidak ditanggapi dan aparat bertahun-tahun pula lengah. Buktinya, angkot pakai musik yang sangat bising tetap bebas hilir-mudik dengan aman. Malah angkot atau bus kota juga dihiasi seronok supaya terlihat gaul sehingga menutupi semua kaca-kacanya serta mengurangi kenyamanan dan rawan tindakan kriminal. Sedangkan Kepala Dinas perhubungan Kota Padang, seakan tutup mata melihat kenyataan yang terjadi.Sebenarnya banyak sekali permasalahan tata kota yang terjadi pada sistem transportasi umum ini. Misalnya lagi di jembatan yang ada di Simpang Haru, Kota Padang. Di sana juga sering terjadi penumpukan kendaraan. Lalu lintas di sana kurang terperhatikan oleh aparat keamanan. Dan kini tampaknya sedang dibangun sebuah jembatan baru disebelah jembatan yang lama.
Kelanjutan pemecahan masalah tata ruang yang kurang efektif di kota Padang ini yaitu dengan mengoperasikan kembali terminal Aia Pacah yang sudah cukup lama vakum. Karena sudah seharusnya angkutan umum untuk tidak terkonsentrasi pada satu kawasan saja yaitu pusat kota. Lihatlah kini relief kota padang yang sempit, angkutan berserakan. Seharusnya Pemko juga memikirkan pembagian rute angkutan agar tidak terjadi penumpukan angkutan pada satu titik.
Written by : Nenny Darmayanti
*Dari berbagai sumber. Untuk melengkapi tugas Biokonservasi dengan tema Tata Ruang Kota
Saya mempunyai sebatang pohon untuk sepuluh tahun kedepan. Awalnya bibit pohon tersebut telah ditumbuhkan di Arboretum Andaleh Biologi Unand di tepi jalan raya dengan nomor tagging B020. Namun kali ini secara imajinernya saya diberi kekuasaan untuk melakukan apa saja terhadap pohon saya tersebut untuk sepuluh tahun kedepan. Baiklah Sebelum saya membahas lebih dalam mengenai perlakuan konservasi apa yang akan saya perbuat terhadap pohon tersebut, ada baiknya saya perlihatkan terlebih dahulu gambar “bayi” pohon saya tersebut.
Inilah tampak real calon pohon yang akan saya miliki. Dan saya yakin beberapa tahun kedepan tumbuhan ini akan menjadi pohon yang kokoh, berkayu, daunnya lebat dan sangat sejuk berteduh dibawahnya. Setelah meninjau langsung ke lapangan, ternyata pohon saya ini tergolong ke dalam famili Dipterocarpaceae.
Sedikit gambaran, secara umum Dipterocarpaceae merupakan kelompok kayu perdagangan utama (meranti dan balau/Shorea, mersawa/Anisoptera, keruing/Dipterocarpus dan kapur/Dryobalanops). batang berbanir dan kulit luar bisaanya bersisik atau beralur dan seringkali mengelupas. Daun tunggal dengan kedudukan berselang-seling (alternate), bertepi rata atau beringgit, bertulang sirip, seringkali berdaging, daun penumpu (Stipula) besar atau kecil dan seringkali mudah rontok.
Itu sedikit deskripsi mengenai Dipterocarpaceae. Lalu perencanaan apa yang akan saya rancang untuk pohon saya tersebut? Apakah saya mampu menyeimbangkan semua aspek penilaian demi menjaga etika konservasi?. Begini, saya ada beberapa harapan kedepan terhadap pohon kesayangan saya ini. Saya tahu bahwa Dipterocarpaceae merupakan pohon berkayu yang sangat ekonomis pada saat sekarang. Rencananya, dari sebatang pohon itu, saya akan membibitkannya. Setelah banyak bibit yang saya peroleh, saya tentu mulai memikirkan apa langkah maju yang harus saya tempuh agar bisa mempotensialkan semua bibit-bibit saya.
Saya ingin menjadi pejuang konservasi. Saya akan berencana menanam semua bibit saya di lahan atau hutan yang sudah kritis atau tidak produktif lagi demi menjaga keseimbangan ekosistem. Mungkin juga saya akan bekerjasama dengan bagian kehutanan di suatu wilayah misalnya di hutan-hutan di Sumatera Barat ini. Kami akan mengadakan promosi tumbuhan Dipterocarpaceae dan sekaligus melakukan penanaman massal Dipterocarpaceae pada suatu lahan – lahan renggang di hutan yang telah minim plasma nutfahnya. Dan lahan ini akan kami jadikan sebagai lahan konservasi, yang tidak hanya didominasi oleh Dipterocarpaceae namun juga diimbangi dengan tumbuhan hutan lainnya yang masih ada. Dan kami akan menetapkan kawasan tersebut sebagai miniature hutan tropis Indonesia. Miniatur hutan tropis Indonesia ini akan saya jadikan sebagai plot, baik untuk penelitian civitas akademika, lembaga penelitian, maupun perorangan yang peduli terhadap jenis tanaman Dipterocarpaceae yang semakin terdegradasi di hutan tropis Indonesia.Mengingat tumbuhan ini sebagai tumbuhan ekonomi, tentu saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Pohon meranti adalah salah satu pohon aset untuk kayu-kayu bangunan, furniture, dan kayu pertukangan lainnya. Pohon-pohon meranti akan saya fungsikan sebagai kayu ekspor. Jadi setidaknya saya akan melakukan penanaman dan sekaligus penebangan yang tentunya diimbangi dengan regenerasinya. Dan saya akan bekerjasama dengan pabrik-pabrik funiture, saya sebagai pemasok bahan baku, dan pabrik ini sebagai tempat olahan kayu meranti. Saya akan ekspor ke luar negeri, dan berapa keuntungan yang saya terima, sebagiannya akan saya pergunakan lagi untuk menambah lahan bibitan meranti saya. Saya tidak hanya menanam semua bibit tetapi juga menjual sebagian bibit – bibit itu untuk orang-orang yang akan melakukan penanaman pada lahannya.
Kita tahu bahwa tumbuhan meranti merupakan tumbuhan yang dapat menghasilkan damar. Damar dapat dijual dan dapat menambah penghasilan. Akhir-akhir ini budidaya meranti untuk menghasilkan damar sangat kurang. Maka dengan adanya lahan meranti yang saya kembangkan, mudah-mudahan dapat menambah jumlah produksi damar.
Sepertinya semua ide sudah saya tuangkan dalam tulisan saya ini. Mungkin kembali ke pohon asli saya. Pohon yang sejak dari awal belum saya perlakukan apa-apa. Kalau boleh dibilang, pohon asli ini adalah pohon moyangnya dari bibit-bibit yang saya ceritakan sebelumnya. Mungkin pohon asli ini tidak akan saya apa-apakan. Karena saya sangat menghargai pohon itu. Karena dari pohon inilah lahir banyak bibit. Mungkin dibawah pohon itu akan saya bangun tempat untuk duduk-duduk. Karena kesejukan berada di bawah pohonnya. Oh...tiba-tiba ide saya kembali muncul. Alhamdulillah pohon saya itu berada dekat dengan lahan yang sangat banyak ditumbuhi oleh “karamuntiang” , jadi saya berinisiatif untuk membuat taman di areal dekat pohon saya. Sekaligus disana juga akan dibuat kebun karamuntiang. Soalnya saya pernah melihat waktu itu ada sekeluarga yang memberhentikan mobilnya didepan Arboretum Andalas yang ada di tepi jalan jurusan biologi yang banyak ditumbuhi oleh “karamuntiang”. Lalu apa yang mereka lakukan di sana? Ternyata mereka mengeluarkan keranjang buah yang sudah mereka persiapkan sebelumnya, dan memetik semua buah “karamuntiang” yang sudah matang. Wow..saya jadi berpikir, ternyata Arboretum yang oleh civitas akademika biologi dijadikan sebagai kawasan penelitian dan pembudidayaan Moraceae dan Dipterocarpaceae, rupanya bisa juga dijadikan sebagai kebun rekreasi memetik buah “karamuntiang”.
Lalu saya berpikir, kenapa tidak saya manfaatkan pohon saya untuk tempat istirahat yang nyaman, sejuk, fresh, banyak O2 nya, dan pastinya full AC (Angin Cepoicepoi). Saya tidak akan merubah bentuk pohon, atau merusak maupun menebang bagian dahannya. Tapi rencananya saya akan membentuk kanopi dari pohon ke pohon sebagai pelindung.
Sebenarnya apapun ide yang dicanangkan, selagi tidak merusak tumbuhan itu sendiri, saya rasa sah-sah saja memperlakukan tumbuhan tersebut sesuai dengan keinginan. Namun kali ini ide saya benar-benar sudah habis dan terkuras. Mungkin saya mengharapkan bagi siapa saja yang membaca tulisan dan harapan saya ini, bisa memberikan kritik dan saran yang konstruktif terhadap perencanaan yang akan saya lakukan.
Saya ingin dalam perencanaan saya ini tetap memperhatikan nilai-nilai konservasi namun tidak menutup kemungkinan juga saya mengambil manfaat (*didominasi secara ekonomi) dari perencanaan yang saya lakukan. Pembibitan akan terus dilakukan, dan pemanfaatan secara ekonomipun tetap berlanjut. Slogan dari saya.............
“ PERLAKUKAN POHON KITA LAYAKNYA KITA MEMPERLAKUKAN SESUATU YANG KITA SAYANGI”
Salam Konservasi.
* Nenny Darmayanti
*Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Biologi Angkatan 07, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.
nennydarmayanti@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.